Selamat datang di website Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyyah | Kritik, saran, informasi dan artikel dapat dikirimkan melalui: redaksi@kedungwungu.com

Panduan Praktis Memahami Surat al-Fatihah*

Oleh: H Nasrulloh Afandi, Lc, MA

Pengajar Pesantren asy-Syafi’iyyah

Al-Fatihah adalah bahasa Arab, dalam bahasa Indonesianya: ’’Pembuka’’, ia adalah salah satu surat al-Quran. Dinamakan al -Fatihah, karena menjadi pembuka dalam urutan pembukuan/penulisan al-Quran, meskipun bukan merupakan surat (al-Quran) yang pertama kali diturunkan, dan dalam tinjauan fikih, ia rukun wajib dibaca pada setiap awal rakaat sholat, dan sholat tidak sah bila tanpa membaca surat ini(1)


Status Surat

Para ulama tafsir ikhttilaf(berbeda pendapat) Apakah al-Fatihah adalah surat golongan Makah(Makiyah) Atau Madinah(Madaniyah) Namun mayoritas ulama tafsir konsesus(ijma) Bahwa al-Fatihah adalah surat Makiyah, yaitu surat yang diturunkan di Makkah (2)

Posisi Basmalah

Ulama sepakat, bahwa basmalah yang terdapat pada surat an-naml adalah bagian dari ayat al-Quran, terdapat dalam firman Allah SWT: Innahu min Sulaimana wa inna-hu Bismillahirrahmanirrahim.

Tetapi. Mereka berbeda pendapat, apakah basmalah adalah bagian dari ayat al-Quran (dalam hal ini al-Fatihah) atau bukan? Sedikitnya ada tiga pendapat :

1. Menurut Syafi’iyyah, basmalah adalah ayat bagian dari semua surat al-Quran, bahkan juga bagian dari surat al-Fatihah ini.

2. Menurut Malikiyah, basmalah bukan merupakan ayat dari surat al-Fatihah, bahkan bukan merupakan bagian apa pun dari totalitas al-Quran.

3. Menurut Hanafiah ; basmalah merupakan ayat yang diturunkan oleh Allah SWT untuk membedakan antara sesama surat al-Quran. Posisi basmalah dalam surat al-Fatihah bukan merupakan ayat dari surat tersebut. Tetapi merupakan ayat al-Quran di beberapa surat lainnya.

Dari perbedaan tersebut, menurut Imam al-Qurtuby yang unggul adalah pendapat Malikiyah: “Basmalah bukan ayat al-Quran”. Karena al-Quran tidak bisa ditetapkan dengan Hadits Ahad. Akan tetapi dengan kepastian banyaknya riwayat(tawatur) yang tidak terdapat perbedaan pendapat (3)

Opini senada juga diungkapkan oleh Ibnu Aroby: “Hadits-hadits shohih menunjukkan bahwa basmalah bukan merupakan ayat dari surat al-Fatihah” (4)

Jumlah Huruf dan Kalimat

Menurut Imam Ibnu Katsir : “Ulama sepakat, di dalam surat al-Fatihah, terdapat 7(tujuh) ayat, 25(dua puluh lima) kalimat , dan 113(seratus tiga belas) huruf” (5)

Jumlah Paragraf

Esensialitas surat al-Fatihah terbagi menjadi tiga Faqroh(paragraf). Paragraf pertama tiga ayat. Paragraf kedua, satu ayat. Dan paragraf ketiga, dua ayat, yaitu sebagai berikut :

Bismillahirrohmanirrohim(1)


Paragraf pertama tiga ayat:


Al-hamdulilahi Robbil A’lamin(2) Ar-Rahmanir Rahim(3) Maliki Yaumiddin(4)

Paragraf kedua satu ayat:


Iyyakana’budu Waiyyaka Nastain(5)

Paragraf ketiga dua Ayat:


Ihdinash shirotol mustaqim(6) Sirotol ladzina an’amta a’laihim ghoiril mahdzubi a’laihim waladhollin(7)

Terjemahnya:

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


2. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.


3. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

4. Yang menguasai Hari Pembalasan.


5. Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.

6- Tunjukilah kami jalan yang lurus.

7- Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Inti Cakupan


Telah dikatakan di atas tadi, bahwa surat ini terbagi menjadi tiga paragraf. Cakupan dari masing-masing paragraf itu adalah:


1. Paragraf pertama dengan tiga ayat adalah mencakup asas aqidah.

2. Paragraf kedua dengan satu ayat, adalah asas beribadah.

3. Sedangkan paragraf terakhir, dengan tiga ayat, adalah jalur-jalur kehidupan (6).

Keistimewaan Isi

Banyak hadits yang menyatakan spesifiknya isi surat al-Fatihah, di antaranya:

1. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya : “Sesunguhnya Ubay bin Ka’ab membaca Umm al-Quran di hadapan Nabi SAW, kemudian Nabi bersabda : ‘Sesuatu hal yang terdapat di dalamnya, tidak diturunkan pada kitab-kitab sebelumnya(Injil, Zabur dan Taurot) Juga tidak terdapat pada surat lain yang terdapat di dalam al-Quran. Yaitu Sabu’ al-Matsani dan al-Quranul Adzim. Hadits ini bertitik temu dengan firman Allah di dalam surat al-Hijr: ’’Laqod atainaka sab’an min matsany wal-Quranul Adzim’’.

2. Di dalam kitab Shohih Bukhory : ’’Sesunguhnya Nabi SAW bersabda pada Aby Said bin al-Mualla : ‘’Aku beritahu padamu sebuah surat yang paling agung di dalam al-Quran (segala puji bagi Allah) : Yaitu sab’u al-matsany dan al-Quran al-Adzim yang kudatangkan (7)

Perlu diingat, maksudnya “sab’u al-matsany dan al-Quran al-Adzim”, adalah nama lain dari surat al-Fatihah, sebagaimana akan dibahas berikut ini.

Nama-Nama Surat Ini

Menurut Imam Qurtuby, ada dua belas nama bagi surat al-Fatihah, yaitu:

1. as-Sholath, dinamakan as-Sholath, karena sholat tidak syah tanpa membaca surat itu (8).

2. al-Hamd, dinamakan al-Hamd, karena di dalamnya menyebutkan Hamd(Puji bagi Allah SWT). Sebagaimana Surat al-A’rof, al-Anfal, at-Taubath dan sejenisnya.

3. Fatihatulkitab, dinamakan fatihatulkitab, hal itu tanpa adanya perbedaan opini antar ulama. Digunakannya nama tersebut, karena bacaan al-Quran diawali dengannya secara lafdziyah, dan dengan surat tersebut pula peulisan al-Quran diawali. Serta dengan bacaan (al-fatihah) pula sholat diawali.

4. Umul kitab ; untuk penggunan nama ini, terjadi perbedan pandangan antara ulama, mayoritas(jumhur) memperbolehkannya. Dan makruh hukumnya menurut imam Anas, Hasan dan Siirin.

Di dalam kitab al-Bukhory dikatakan: “Dinamakan ummulkitab, karena ia ditulis sebagai permulaan pada beberapa mushaf.

5. Umulquran; Para ulama juga ikhtilaf(berbeda pendapat) untuk penggunaan nama yang ini. Mayoritas ulama (jumhur) memperbolehkannya. Sedangkan Imam Anas, dan Ibnu Siirin memakruhkannya.

Dinamakan ummulquran. Karena ia permulaan (al-Quran) Dan isinya mencakup semua ilmu yang terkandung di dalam al-Quran.

6. al-Matsany, dinamakan al-matsany karena berulang kali dibaca setiap rakaat sholat. Sebagian pendapat menyatakan, diberlakukannya nama tersebut, karena pengecualian untuk umat Nabi Muhammad dan belum diturunkan kepada umat sebelumnya. Karena Allah menyimpan terhadap al-Fatihah.

7. al-Quranul A’dzim, dinamakan al-Quranul A’Dzim, karena mencakup semua isi al-Quran. Hal itu, mencakup atas pujian kepada Allah Azza wa Jalla, dengan sifat-sifat Kesempurnaan dan Kebesaran-Nya.

8. as-Syifa, sebagaimana diriwayatkan oleh Daromy dari aby Said al-Chudry, Rasulullah SAW bersabda: “Fatihatul kitab adalah penyembuh dari segala racun”.

9. ar-Ruqyah, hal itu ditetapkan dalam hadits Aby Said bin Chudry: “sesunguhnya Rasulullah SAW bersabda; ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah(mantera)

10. al-Asas, dinamakan al-Asas, karena Rasulullah SAW pernah menyatakan: “al-Fatihah adalah asasnya al-Quran”.

11. al-Wafiyah(yang sempurna) Dinamakan al-Wafiyah karena ia tidak bisa dibagi. Kalau surat lain boleh dibaca sebagian dalam sholat, tapi jika surat al-Fatihah dibaca sebagian saja maka sholatnya tidak sah.

12. al-Kafiyah. Dinamakan al-Kafiyah, karena surat tersebut tidak membutuhkan kepada surat yang lainnya, sedangkan surat lain membutuhkannya. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Cholad, al-Iskandarony. Nabi SAW bersabda: “Umulquran mengganti dari surat lainnya, sedangkan surat yang lain tidak bisa menggantikan posisi umulquran” (9)

Dua belas nama tersebut menurut Imam al-Qurtuby. Sedangkan terdapat perbedaan pendapat antar ulama yang lainnya, diantaranya menurut Imam at-Thabary, “Nama al-Fatihah lebih dari 20(dua puluh nama)” (10)

Posisi Kalimat “Amin”

Lafadz “Amin”, bukan merupakan bagian dari surat al-Quran. Dalam prespektif ilmu shorof, “Amin’’ adalah isim fi’il amar. Karenanya, mayoritas ulama mengartikan kalimat ‘’Amin’’ : ‘’Semoga mengabulkan doa kita’’.

Sebagian ulama modern Mesir berpendapat, kalimat “Amin” makna sesungguhnya adalah “Allah”. Disebutkan diakhir al-Fatihah, untuk mengakhiri “Nama Allah Ta’ala”, sebagai isyarat, bahwa Allah SWT adalah tempat kembali semua makhluq.

Dalam konteks sholat. Menurut Imam Hasan Bashry, imam(sholat berjamaah) tidak perlu mengucapkan lafadz tersebut. Karena “Amin” adalah bentuk do’a.

Yang masyhur diriwayatkan dari Abu Hanifah; imam (sholat) hendaknya membaca “Amin” dengan pelan, sesuai dengan hadits riwayat Anas ra. Sedangkan menurut Syafi-iyyah, imam sholat juga hendaknya membaca kalimat “Amin” dengan keras. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hajar: “Bahwa Nabi SAW bersabda: ketika membaca ‘waladzollin’ maka hendaknya juga membaca ‘Amin’ dengan keras (11)

Wallohu A’lam Bi Ash-Showab.

==================================================================
*Tulisan ini dibuat saat menempuh studi program strata satu di Fak. Usuluddin Univ. al-Qurawiyin, Tetuan, Maroko. Dan disampaikan dalam pengajian Ramadan Perhimpunan Pelajar Indonesia(PPI) di Maroko, Selasa, 01 September 2005.

Kritik dan saran untuk kebaikan tulisan ini, bisa dialamatkan langsung ke penulis melalui E-Mail: gusgaul(at)yahoo(dot)com

Foot Note:

(1) at-Thobary, Ibnu Jarir, Mahmud Salby(tahqiq), Tafsir al-Fatihah, Dar al-Makrifah, Beirut, Libnan, cet kedua, 1975 M, h. 15.


(2) ash-Shobuny, Sofwath At-tafasir,Dar al-Fikr, Beirut, Libnan,(tt) jilid 1, h. 24.


(3) Aly Ash-shobuny, Muhammad, Rawa’i al-Bayan, Dar al-Fikr(tt), jilid 1 h, 36.


(4) Ibnu Aroby, Ahkam al-quran, Jilid 1, h. 20.


(5) Bin Katsir, I’maduddin Aby al- Fadza Ismail, Tafsir al-Quran al-Adzim, Dar al-Fikr, Cet 2 , 1970, jilid 1,h. 18.


(6) Said Hawwa, al-Asas fi at-Tafsir, Dar as-Salam, Cet. 1, 1985 M. Jilid 1, h. 35-50.


(7) al-Qurtuby, Aby Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshory, al-Jami’ liachkami al Quran, Dar al-Qolam, Cet 3, 1966, h. 93-94; Ibn Katsir h.17.


(8) Aly Ash-shobuny, Muhammad, Rawa’i al-Bayan, Dar al-Fikr(tt), jilid 1, h. 38.


(9) Al-Qurtuby, Aby Abdullah Muhammad bin Ahmad a-Anshory, al-Jami’ liachkami al Quran, Dar al-Qolam, Cet 3, 1966, h, 111-113.


(10) at-Thobary, Ibnu Jarir, Mahmud Salby(tahqiq), Tafsir al-Fatihah, Dar al-Makrifah, Beirut, Libnan, cet kedua, 1975 M, h,118-120.


(11) Musthofa al- Maroghy, Ahmad, Tafsir al-Maroghi, jilid 1, h. 38.

About the Author

Leave a Reply

*

captcha *