Selamat datang di website Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyyah | Kritik, saran, informasi dan artikel dapat dikirimkan melalui: redaksi@kedungwungu.com

Perlunya Menjadi Manusia Setia*

Catatan Hikmah: Nasrulloh Afandi


Pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Asy-Syafi’iyyah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) di antara definisi setia adalah bisa dipercaya. Implementasi setia dalam tatanan bermasyarakat Ia adalah watak yang identik dengan dipercaya, entah sikap maupun perkataan, juga identik dengan sifat yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan Amanah(dipercaya)

Relevansinya, di konteks ini, sangatlah tepat bila selain sifat Siddiq(jujur) Tabligh(menyampaikan risalah) Dan Fathonah(intelegensi tinggi) Juga para utusan Allah SWT mempunyai sifat Amanah(dipercaya) Yaitu sifat wajib para Rasul, untuk menafikan sifat Khianat.

Kenapa Harus Setia?

Setia adalah salah satu esensialitas modal sukses berbagai sisi hidup dan kehidupan manusia. Baik konteks dunia yang sedang dijalani sekarang, sampai kehidupan alam akhirat yang akan datang dan pasti akan kita jalani nanti.

Ulama pun tidak ada yang mengingkarinya., setia dalam jalur kebenaran, adalah fenomena wajib hukumnya menurut substansi agama(al-Quran, as-Sunnah, al-Qiyas dan al-Ijma)

Ia juga tidak bertentangan dengan logika bahwa setia adalah hal sangat ilmiah dan manusiawi untuk eksis di implementasikan dalam berbagai sendi hidup dan kehidupan manusia sehari-hari, sekaligus merupakan salah satu identitas dominan untuk membedakan karakter komunitas yang benar-benar berpendidikan dan tidak.

Bisa dipastikan, orang yang terjangkit penyakit tidak setia, merupakan salah satu tanda orang munafik.

Kuranglah pas, jika di pranata masyarakat, selama ini, kalimat setia hanya diidentikkan dengan fenomena cinta(asmara) Atau birahi, misalnya saja setia pada sang suami, pacar dan sejenisnya. Sehingga, kita sering mendengar terjadinya perselingkuhan seorang istri, katanya “demi setia” dengan mantan pacarnya. Inilah di antara contoh implementasi setia yang keblinger alias tidak muqtadlo al-Maqom(Salah tempat)

Data Sejarah


Sejarah pun mencatat, betapa sadisnya sang raja Fir’aun mengancam dan menyiksa wanita bernama Masyitoh, tidak hanya pribadinya, tetapi anaknya juga diancam akan turut disiksa, yang dijadikan “alat” penyiksaan untuk menambah derita Masyitoh, sebelum Ia sendiri disiksa, namun wanita sholikhah itu tetap “setia” pada Allah SWT, dengan cara setia mempertahankan keimanannya.

Beda halnya dengan kronologis putra Nabi Nuh, yang bernama Kan’an, karena tidak setia kepada ajaran agama yang diserukan oleh ayahandanya, maka kekafiranlah yang Ia jalankan dan turut tenggelam oleh banjir bandang bersama orang-orang kafir lainnya.

Nah, kondisi sekarang maraknya fenomena menggelikan namun sekaligus memperihatinkan, yakni banyaknya orang yang hanya beberapa hari terlambat makan, kemudian ia menukar imannya dengan beberapa kilo beras dan sebungkus mie instant, itu adalah fakta akurat dari realitas dominannya sifat khianat atau tidak setia dengan Tuhannya.

Di sisi lain, dalam konteks asmara. Kita membaca kisah cinta Lady Di atau yang akrab disapa Putri Diana. Ia memburu pemuda asal Mesir yang bernama Imad al -Fayid atau yang akrab disapa Dody al-Fayed. Tiada lain, faktor utama waktu itu, adalah karena pangeran Charles yang telah “mengalir” pada urat nadi sang Putri jelita itu, namun sang Pangeran itu tidak setia padaNya karena jatuh ke dalam lingkaran pelukan mesra Camelia Parker.

Dalam konteks politik, sejarah juga mencatat tumbangnya kekuasan Tunggul Ametung, faktor utamanya adalah tidak setianya Ken Dedes, sang permaisuri cantik putri dari Mpu Purwa itu berselingkuh, dengan diiming-imingi tipuan fanorama cinta yang ditawarkan oleh Ken Arok, yang sebenarnya merupakan jerat agar Ken Dedes mau “berkoalisi” dengan Ken Arok untuk merebut dan menumbangkan tahta Tunggul Ametung, dan masih banyak lagi berbagai contoh dalam konteks yang berbeda-beda.

Telah dikatakan di atas tadi, bahwa setia merupakan salah satu modal pokok meraih sukses hidup dan kehidupan duniawi-ukhrowi(dunia-akhirat) Maka, analogi komunitas terpelajar, menyimpulkan bila ada anak muda sedang dilanda kasmaran, kemudian dia rela melakukan apa saja demi untuk menarik simpati dari keluarga gadis yang dicintai agar merestui cintanya, maka “patut diacungi jempol” Ia adalah setia dalam memperjuangkan cintanya.

Atau ada anak muda yang berusaha keras dengan target untuk meraih sukses karir di hari depannya, maka Ia setia pada cita-citanya.

Atau orang yang tekun dan serius dalam melaksanakan tugas kantor, maka Ia setia dengan profesinya, dan seterusnya.

Efek Samping


Realitasnya, misalnya saja pasangan suami-istri tanpa adanya kesetiaan di antara keduanya, maka pertengkaran yang terjadi, dan perceraian adalah di antara salah satu konsekuensinya.

Atau jika seorang pemimpin tanpa kesetiaan pada masyarakatnya, maka tentu kediktatoran(kedholiman) yang dilakukannya, dan akan mengakibatkan kekacauan suatu bangsa dan negara, minimalnya di kawasan yang dipimpinnya, karena terjadinya gejolak atau bahkan anarkisme dari masyarakat yang didholiminya itu.

Tetapi sebaliknya, jika menerapkan kesetiaan dalam berbagai konteks dan sendi kehidupan, maka di antara hikmahnya. tentu tercipta keindahan kebersamaan dan kesuksesan dalam kehidupan manusia seantero jagad raya.

Alhasil, betapalah pentingnya penanaman karakter kesetiaan, baik individual, terlebih lagi totalitas manusia sejak dini. Kecuali, ingin mengusung kondisi tidak bisa dibedakannya antara manusia sebagai mahkluk yang berakal, dengan makhluk lain yang tidak berakal, dan sama sekali tidak menyadari betapa pentingnya sebuah kesetiaan dalam berbagai kondisi dan bagian hidup dan kehidupan, baik vertikal(dengan Allah SWT) maupun horisontal(sesama manusia).

Akhirnya, semoga kita semua oleh Allah SWT selalu diberi sebuah kesetiaan di berbagai aspek dan sektor hidup dan kehidupan, baik dalam konteks religius dengan setia pada keimanan dan agama kita, maupun setia dalam pranata sosial dengan menepati janji, hak dan kewajiban kita sesama manusia, serta kesetiaan lain sebagainya, tak terekecuali dengan Allah SWT. Wallohu A’lam Bi-asshowab.

*Tulisan ini ibuat atas permintaan Bulletin Jumat “Sayidul Ayyam” Perhimpunan Pelajar Indonesia di Maroko, Edisi 11. 23 September, 2005(saat menempuh studi program strata satu di universitas Karaouyine Maroko)

Kritik, saran untuk kebaikan tulisan ini, bisa disampaikan langsung kepada penulis ke E-mail: gusgaul(at) yahoo(dot)com

About the Author

Leave a Reply

*

captcha *