Selamat datang di website Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyyah | Kritik, saran, informasi dan artikel dapat dikirimkan melalui: redaksi@kedungwungu.com

Sufisme dan Kebangkitan Nasional (1/2)

sufiDR. KH. A. Najib Afandi, MA
Jika tasawuf adalah akhlak, maka segala bentuk usaha pembentukan karakter dan sifat dan pribadi yang luhur dan mulia baik dihadapan manusia maupun Allah adalah tasawuf. Apapun komentar tentang definisi tasawuf bukanlah sebuah kesalahan dan perbedaan yang terjadi diantara mereka. Tasaawuf adalah balance dari keadaan kehidupan manusia dari masa kemasa. Jika tasawuf muaranya adalah akhlak, adakah relasinya dengan agama, politik, dan budaya sehingga tasawuf benar-benar punya persambungan dan peran mutlak dalam mengisi kebangkitan nasional?

***
Kebangkitan nasional sedang jadi tema utama pemerintah dalam upaya membangun dan mengukuhkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan bangkit dari pelpagai malapetaka dan keterpurukan. Jargon itu bukan tanpa dasar sejarah, tujuan, dan cita-cita mulia. Apabila melihat sejarah dan cita-cita proklamator, Indonesia adalah negara besar dan kaya dengan alam dan sumberdaya insani. Namun, semua itu kini telah sirna dan beralih ke tangan investor.
Disadari atau tidak kebangkitan yang digembar-gemborkan pemerintah saat ini hanya akan menjadi keniscayaan jika prosesnya tidak dibarengi dengan propfesionalisme insani lahir dan batin. Kebangkitan yang menjadi harapan semua bangsa dan rakyat tidak akan pernah terwujud tanpa memaknai kembali sejarah-sejarah sebelumnya dan menekankan kewajaran pembangunan mental, spiritual, social-budaya, ekonomi, dan politik yang seimbang.
Kehancuran dan kesuksesan sebuah negara telah tertulis tinta emas sejarah yang keduanya cukup untuk kita jadikan cermin kebangkitan nasional yang sedang kita garap.
Melihat pilar-pilar reaktualisasi kebangkitan Indonesia ala SBY sekarang ini, menurut hemat kami, belum menyentuh substansi dan unsur-unsur kebangkitan negara yang sesungguhnya. Sehingga kebangkitan nasional hanya akan menjadi impian karena rapuhnya faktor-faktor irasionil seperti keikhlasan, takwa, dan jujur serta sifat terpuji lainnya dalam jiwa-jiwa penggerak roda bangsa. Untuk itulah sudah saatnya kita mereaktuaalisasikan nilai-nilai sufistik yang sarat dengan nilai-nilai moral, kemanusiaan yang rasionil maupun irasionil.
Walaupun oleh sebagian orang tasawuf dianggap tidak relevan dan kedudukannya sendiri masih dalam posisi ”tergugat.” Tetapi, sejarah Makkah dan Madinah serta peradaban modern telah membuktikan kesuksesan reaktualisasi nilai-nilai sufistik dalam membangkitkan dan membangun sebuah bangsa yang telah binasa.

Tasawuf: Reaktualisasi Agama, Politik, dan Budaya
Jika tasawuf adalah akhlak, maka segala bentuk usaha pembentukan karakter dan sifat dan pribadi yang luhur dan mulia baik dihadapan manusia maupun Allah adalah tasawuf dan orangnya adalah sufi. Maka dari itu, apapun komentar ulama tentang definisi tasawuf bukanlah sebuah kesalahan dan perbedaan yang terjadi diantara mereka. Justru perbedaan itu menunjukkan pluralisme yang tanpa batas dan elastisisme tasawuf karena tasaawuf adalah balance dari keadaan kehidupan manusia dari masa kemasa. Sehingga norma-norma tasawuf selalu berubah sesuai kondisi dan situasi masyarakat dan kehidupannya.
Jika tasawuf muaranya adalah akhlak atau pembentukan akhlak manusia, maka adakah relasinya antara tasawuf dengan agama, politik, dan budaya sehingga tasawuf benar-benar punya persambungan dan peran mutlak dalam mengisi kebangkitan nasional? Bukankah tasawuf itu bagian daripada Islam, lalu apa hubungannya dengan politik dan budaya? Tesis ini akan mencoba menyambungkan tiga hal tersebut, sehingga lahirlah jawaban bahwa tasawuf memiliki kebenaran dasar dan peran dalam mengisi kehidupan sekaligus membuktikan bahwa kehidupan ini akan hancur jika lepas dari nilai-nilai sufsime.
Jika tasawuf adalah bagian dari pada ajaran Islam (baca: akhlak) yang menjadi dasar kerasulan Nabi Muhammad saw. seperti yang ia katakana, ”Sesungguhnya Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.” Lalu, dimana posisi tasawuf dalam beragama? Beragama (memahami dan menjalankan syariat Islam secara utuh) adalah formalitas kepribadian muslim selama hayat masih dikandung badan yang tidak boleh sedikitpun ditinggalkan atau dilupakan. Karena semua itu adalah aplikasi kepribadian muslim yang taat dan tunduk kepada sang pencipta. Beragama (baca: Islam) yang berarti paham, mengerti, dan patuh adalah sebuah bukti ketulusan hati (baca: iman) dalam menjalankan perintah dan kewajiban sebagai seorang hamba termasuk dalam menjaga kelestarian dan perdamaian dunia. Maka dair itu, secara formalitas mereka yang selalu melakukan kewajibannya adalah muslim yang taat. Realitasnya komitmen seperti itu akan melahirkan nilai-nilai lebih dalam membentuk kepribadian dan kultur dan budaya sekitarnya. Seperti sholat yang Allah sampaikan kepada kita semua, ”Sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar” (QS: 29: 45). Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya.
Namun ketika kembali kepada realitas kehidupan dan rutinitas muslim yang tidak pernah sepi dari formalisasi ibadah dengan berbagai jenis dan kegiatannya baik yang wajib maupun yang sunah juga yang bid’ah mahmudah, ternyata belum mampu memberikan bukti efektifitas ibadah sebagai ruang pembentukan peribadi dan akhlak yang luhur dan mulia. Maka timbulah pertanyaan: kenapa banyak orang sholat tapi sebanyak itu pula yang melakukan kejahatan baik yang ringan maupun yang berat? Alquran-nya yang salah atau orangnya? Atau mungkin juga karena faktor lain? Alquran salah dalam memberikan informasi sangat tidak mungkin. Persoalannya tentu ada pada pelaksanaan dan pelakunya (kita). Apa itu?
Orang boleh jadi paham dan mengerti syarat dan rukun ibadah begitu juga pola pelaksanaannya, tapi masih sedikit yang paham bahwa dalam pelaksanaan ibadah ada aturan lain yang bisa mengangkat atau menghilangkan nilai ibadah yang kita lakukan. Ketika fikih hanya berbicara lahiriyah ibadah (syarat dan rukun), maka tasawuf akan berbicara dari sisi dalam (hati) kita yang melakukannya. Karena apa yang kita lakukan sekalipun tepat dengan aturan fikihnya serta dihukumi sah dan mendapatkan pahala, tapi belum tentu semua orang yang melakukannya dapat membuktikan diri sebagai orang yang berhasil merasakan/ mendapatkan nilai plus ibadah yang dilakukannya, seperti yang Allah maksudkan. Sebab banyak praktik dan ritual keagamaan yang kita laksanakan tapi tidak dibarengi dengan akhlak baik kepada diri sendiri, orang lain juga kepada Allah. Dari sini sangat jelas bahwa tasawuf (akhlak) memiliki peran besar dalam meraktiualisasi agama dan prilaku penganutnya sehingga agama benar-benar tegak dan memberikan bukti nyata dalam kehidupan manusia dan lingkungannya.
Jika nilai-nilai susfisme telah tereaktulisasikan dalam beragama dengan baik. Sudah pasti sekecil apapun ibadah yang kita lakukan akan memberikan nilai positif dalam membentuk pribadi yang luhur dan saleh sehingga setiap langkah dan perbuatan orang yang beragama (Islam) akan selalu mencerminkan semangat kebenaran, kejujuran, kesalehan, dan ”sosialisme” serta jauh dari tindakan indisipliner dalam bertindak maupun berpikir. Jika hal ini terwujud dalam kehidupan kita niscaya carut-marut kehidupan politik, ekonomi, pendidikan dan sosial Indonesia akan segera terhenti lalu terciptalah kemesraan hidup antar golongan, kebersamaan, persatuan, persaudaraan, dan kesejahteraan hidup. Konsekwensi bangsa ini akan segera bangkit dari tidurnya; rakyat pun kembali sejahtera.
Selanjutnya, segala sistim kehidupan telah terkatrol dengan nilai-nilai agama dan semangat sufistik–artinya pelaksanaan rutinitas ibadah kita telah tertata secara baik lahir dan batin–maka akan lahirlah manusia-manusia penghuni dunia yang saleh dan disiplin hukum, teguh pendirian dan komitmen/ ikhlas karena Allah swt. dalam setiap pengabdiannya. Dengan demikian, terciptalah komunitas yang ahlaqi (berakhlak) yang bisa menjaga dunia dan memanusiakan manusia secara utuh. Hancurnya kehidupan dan tatanan dunia saat ini sesungguhnya adalah akibat inkonsistensi hukum dan indispiliner kita dalam menjaga kemuliaan agama dan kesakralan janji kita kepada Allah sebagai seorang muslim yang taat. Dan semua itu adalah akibat hilangnya akhlak para sufi dalam hati kita. Itulah kesimpulan makna ucapan pujangga besar Arab, Ahmad Syauqi: Suatu bangsa akan kuat dan jaya ketika masih memiliki akhlak dan akan hancur jika tidak lagi berakhlak.

Peran Tasawuf: Kajian Sejarah Kebangkitan Nasional
Banyak orang salah persepsi terhadap tasawuf. Mereka menganggap tasawuf sebagai paham dan komunitas pinggiran yang sama sekali tidak memiliki nilai dan peran dalam bernegara dan bermasyarakat. Penilaian itu samasekali tidak berdasar baik tekstual maupun kontekstual. Secara tekstual tasawuf sangat jelas disebut dan dijelaskan baik dalam ayat maupun hadits, dan pendapat para ulama. Diantara ayat yang menjelaskan posisi dalam Islam dan peran tasawuf dalam kehidupan manusia ialah firman Allah swt.
??? ???????? ????????? ???????? ???????? ??????? ????????? ???? ?????????????. (??????  119)
Imam Al Qusyaeri dalam tafsirnya mengatakan bahwa suhbah (berkumpul) dengan orang saleh yang jujur iman dan amalnya dalam doktrin tasawuf adalah keharusan yang dapat membantu membentuk pribadi yang luhur dan berakhlak. Dan hal itu termasuk usaha menjaga kesinambungan kekuatan iman dalam hidup sehingga kita mampu menjadikan diri kita untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka, jika situasi Indonesia banyak didominasi orang-orang yang berilmu tapi tidak berakhlak sehingga apa yang terjadi saat ini adalah bukti bahwa bangsa Indonesia membutuhkan peran orang saleh yang ikhlas.
Dan Allah berfirman:
?????? ???? ???????????? ????? ???????????? ????????????????? ????? ??????? (16) ?????????????? ????? ?????? ???????? ???? ?????? ??????? ?????????? ???????? ???????(17) ???? ????
Rasulullah bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
?????????? ??????????? ???? ?????? ???? ????????? ?????????? ???? ???????????? ??????????? ????? ?????????? ?????? ??????????? ???? ????????? ???? ??????????? ???? ??????? ???? ???????? ???? ??????? ???? ?????? ??????????? ???? ??????? ???????????? ??????? ?????? ???????????? ???? ????????? ??????? ????????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????????? ???????? ??????? ?????????? ?????????? ??????? ?????????? ????????? ??? ??????? ??????? ????? ?????? ???????????? ????????? ???????? ???????? ????????? ????? ???? ???????????? ????? ???????????? ????????? ???????????? ?? ??????? ??????? ??????? ???? ??????? ???? ?????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ???????????? ????? ?????????? ???? ???????? ????????? ???????????? ????????????? ??????????????? ??????? ????????? ?????????????? ???????????? ???????????? ?????? ??????? ?????????? ?????????? ??????????? ??????????? ????????? ????????? ????? ???????. ??? ??? ???? – (? 1 / ? 50 (
Ayat dan hadist di atas menjelaskan betapa rapuhnya ini hdiup dan kehidupan ini jika tidak didasari dengan sunah rasul dan para sahabatnya. Diantara sunah-sunah itu telah diajarkan dan diaplikasikannya oleh rasulullah dan para sahabatnya, yaitu kehidupan yang ahlaqi dalam mencari ridla Allah swt. Pola dan tata cara kehidupan rasulullah dan para sahabatnya dalam menjaga keseimbangan dunia dan akhirat itulah yang kemudian kita sebut dengan tarikat (sunah). Ini artinya bahwa tasawuf telah ada sejak Islam datang.
Dan berikut bukti-bukti konstektual dari pengakuan para ahlinya tentang peran tasawuf dan tarekat dalam mengisi kebangkitan dunia sejak beberapa abad yang lalu. L. Masignon dalam bukunya, Essai Sur Les Origins Lexique Technique De La Mystique Musulmane, mengatakan: Dengan metode tasawuf, menurut Imam Al Ghazali, Islam bisa hidup. Karena para sufi telah memposisikan dirinya sebagai dokter yang bisa menyelamatkan jiwa-jiwa yang rusak dan menghidupkan hati yang telah mati. Itu karena para sufi, seperti kata Harits al Muhasabi, dalam kitabnya, Al Mahbbah, telah memiliki kemampuan melihat dan membaca kejadian secara otodidak berkat ilmu hikmah yang Allah berikan sehingga mereka bisa menghasilkan pemikiran cemerlang yang bisa menjadi ”resep” kehidupan manusia yang jitu.
Al Qusyaeri dalam Al risalah membuat kesimpulan yang sama bahwa Tasawuf bukan sekedar istilah yang sangat indah dan membingungkan orang ”sakit,” justru ia datang sebagai obat yang telah dibuktikan kemanjurannya oleh mereka sendiri sebelum diberikan kepada orang lain. Begitu juga Abu Husen An Nuri berkata sama, ”Tasawuf bukan teks ilmu yang hanya cukup untuk dipelajari dan diajarkan, tapi ia adalah akhlak kehidupan.”
Al Hallaj sesaat sebelum dieksekusi ketika ditanya tentang makna tasawuf itu, ia menjawab: Seperti yang anda lihat. Artinya, lihatlah aku bagaimana memperjuangkan kebenaran dengan tidak membeda-bedakan golongan walaupun harus mati digantungan. Karena itulah ketika berdo’a di Arafah, ia berdo’a untuk semua orang tidak saja untuk orang Islam. Itulah pluralisme dan sosialisme tasawauf, yang tidak pernah kita temukan dalam partai politik.
Dari tesis singkat di atas dapat kami simpulkan bahwa tasawuf memiliki eksistensi besar dalam menata kehidupan karena ia datang sebagai obat segala penyakit kehidupan manusia yang telah ada atau yang menular dari orang-orang jahat. Dan itu sangat realistis dengan situasi saat ini karena semua metodologi dan konsep formal politik, sosiologi, ekonomi, dan pendidikan belum berhasil membangkitkan keterpurukan negara dan dunia. Lalu, apa bukti eksistensi dan keberhasilan kaum tarekat dalam membangkitkan sebuah Negara dan masyarakat yang telah hancur binasa?
Berikut kesaksian L. Masignon seorang orientalis yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Islam, ”Sesungguhnya keberhasilan perdamaian yang dibawa Islam di India bukan karena peperangan, tapi karena kearifan kaum tarekat seperti Al Jastiyah, Al Kubrawiyah, Al Satariyah, dan Naqsabandiyah. Ketika terjadi pertikaian antara dua agama yang berbeda dan tidak bisa diselesaikan oleh siapapun tapi akhirnya berakhir dengan perdamaian karena peran kaum tarekat di atas yang ikhlas tidak pernah mengharapkan imbalan apapun. Demikian juga dengan perdamaian dan kebangkitan Islam di benua Afrika seperti Sinegal, Nigeria, Ghana, dan Tchad. Semua tidak lain karena tarekat-tarekat yang ada seperti Tijaniyah, Sanusiyah, dan Sadziliyah. Karena masyarakat setempat telah menjadikan rubat atau zawiyah para sufi sebagai kajian dan pengembangan metodologi bermasyarakat, berpolitik, dan bernegara yang damai dan sejahtera dalam komunitas Kristen.”
Demikian halnya jika kita kembali kepada sejarah kebangkitan nasional yang ditandai dengan kemerdekaan dari penjajah dan kebangkitannya, juga tidak lain karena keberhasilan peran para sufi nusantara dan para ulama pesantren dengan tarekat dan pesantrennya. Seperti pergolakan Revolusi Petani di Banten pada tahun 1918 M dalam melawan Belanda dibawah komando ulama dan kiai tarekat Naqsabandiyah. Begitu juga dengan perlawanan Kiai Soleh Darat dengan para santrinya di Semarang.
Belanda ketakutan dengan peran dakwah kiai Soleh Darat melalui karya-karya ahlaqi-nya sehingga mereka menganggap Kiai Soleh adalah pembangkang karena keberhasilannya mendoktrin masyarakat sekitar dengan ajaran Islam dan tasawuf ahklaqi untuk memusuhi penjajah. Maka terjadilah sweeping dan pelarangan peredaran karya-karya Kiai Soleh Darat.
Begitu juga dengan tarekat dan kiai yang lain yang tidak pernah menginginkan namanya tercatat sebagai pahlawan kemerdekaan dan kebangkitan Nasional. Dan bukti paling otentik yang tidak bisa terbantahkan adalah peran pondok pesantren sebagai pusat pembelajatan tasawuf Islam dan Islam tasawuf dalam mengusir penjajah dan mengisi kemerdekaan dalam rangka membangkitkan Indonesia yang telah lama terpuruk. Bahkan hingga kini pesantren adalah satu-satunya lembaga yang tetap eksis mempertahankan posisinya sebagai lembaga pendidikan yang memberikan konstribusi besar dalam kebangkitan naisonal baik sektor formal maupun non formal. Itulah beberapa bukti kecil keberhasilan tasawuf dalam mempertahankan keutuhan, kesatuan, dan martabat negara.

 

About the Author

Leave a Reply

*

captcha *